Selasa, 25 Agustus 2020

"Lembah Kelam" Skripsi bersama Allah

5 Reasons to Rejoice That Our God Is Omniscient 

Filipi 4 : 19 TB

Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus 

perjalanan penulisan skripsi baru saja berakhir. ah saya jadi ingat akan masa-masa itu, bisa dibilang itu merupakan perjalanan didalam lembah kelam. banyak jalan lika-liku, naik turun yang harus dilalui. air mata sudah menjadi makanan sehari-hari. 

awalnya saya kira perjalanan menulis skripsi ini akan mudah dan lancar seperti jalan tol jogja-semarang yang tanpa hambatan. saya begitu menikmati dan bersemangat di awal penulisan proposal penelitian, namun seiring berjalannya waktu ada saja kendala yang harus dihadapi. sesuatu yang berasal dari luar kontrol diri sendiri. waktu itu saya cuman bisa misuh-misuh ke Tuhan. bersyukurnya Tuhan waktu itu ga pernah nganggap saya sebagai toxic friend ya .. Tuhan malah dengan setia mendengarkan setiap sambatan saya dalam doa lalu kemudian memberikan saya ketenangan. rasanya butuh waktu lama untuk menenangkan saya yang hobi sambat ini, tapi Tuhan Yesus ga pernah menyerah menolong saya untuk tetap bersabar dan mengerjakan proposal dengan sebaik mungkin. akhirnya 19 Desember saya seminar proposal. setelah seminar berakhir, saya akhirnya baru tahu alasan dibalik Tuhan mengijinkan beberapa hal yang tidak mengenakkan sebelum seminar proposal terjadi. semua untuk kebaikan saya.

Roma 8 : 28 TB

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah

setelah seminar proposal, terbitlah penelitian. masa-masa menjelang penelitian adalah masa-masa yang penuh dengan penantian juga kekhawatiran. di bulan itu, beberapa teman sudah mulai melakukan penelitian bahkan beberapa sudah menyelesaikan penelitian. lalu saya ? jangankan penelitian, bahkan ijin penelitian pun belum juga keluar. setelah ditunggu-tunggu kurang lebih satu bulan akhirnya ijin penelitian keluar juga. keluarnya ijin penelitian ini bukan berarti saat itu juga saya sudah bisa melakukan penelitian, saya masih harus diuji bebas stigma dulu. 

tes bebas stigma belum dimulai, ehh tiba-tiba pandemi covid 19 menghadang. saat itu kampus diliburkan. jogja memberlakukan social distancing yang artinya ruang gerak kita jadi terbatas karena dianjurkan buat di rumah aja. saat itu seperti sudah benar-benar kehilangan pengharapan kalau skripsi ini ga akan mungkin bisa selesai di semester ini. saat itu ya cuman bisa curhat ke mama papa, dan Tuhan. 
selang beberapa minggu di rumah aja, iseng-iseng nanya ke dosen pembimbing tentang tes bebas stigma dan Puji Tuhan beliau berkenan untuk ditemui di kampus besok harinya untuk menguji saya. drama terus berlanjut. perjalanan dalam lembah kelam seolah tiada akhir. kekurangan responden penelitian, saat itu baru tersedia 1 responden yang bersedia.
perasaan khawatir makin menjadi-jadi. kekuatiran yang saya rasakan saat itu membuat saya tidak dapat melihat kasih karunia Allah. kekuatiran saya saat itu membuat saya ga sadar bahwa ada Tuhan Yesus yang setia mendampingi saya. perasaan kuatir dan takut saya saat itu membuat saya enggan datang kepada Tuhan. Perasaan saya kosong, hampa, dan penuh dengan kekecewaan. saya sulit untuk melihat hal-hal baik yang sebelumnya sudah Allah kerjakan dalam hidup saya. hingga entah bagaimana caranya, Allah membawa saya kembali padanya. firman-Nya dalam Matius 27 begitu jelas menegur saya
Matius 6 : 27-28 TB
siapakah diantara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya ? dan mengapa kamu kuatir akan pakaian ? perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal

firman-Nya benar-benar menegur saya dengan sangat keras. siapa sih kau, Mel yang bisa meragukan penyertaan dan pekerjaan tangan Allah dalam hidupmu ? kalau bunga di ladang aja bisa Allah dandani apalagi dirimu yang diciptakan-Nya serupa dan segambar dengan-Nya ? akhirnya yang bisa saya lakukan saat itu, menikmati perjalanan lembah kelam itu bersama Tuhan. saya bersyukur teman-teman di komunitas juga turut membantu mendoakan. saya memberanikan diri untuk menghubungi dosen pembimbing, menceritakan permasalahan saya dan beliau memberi saya kontak Mbak Magda salah satu pendamping sebaya.

Allah bekerja, menyediakan apa yang saya perlukan melalui Mbak Magda. kekurangan responden yang saya keluhkan Tuhan sediakan pada waktu yang tepat. dengan hanya waktu 2 hari, penelitian pun selesai dilakukan. dan penyertaan Allah pun terus berlanjut. Ia mendampingi hingga naskah KTI tersebut dikumpulkan. Ia bekerja melampaui apa yang saya pikirkan. 

Matius 6 : 30-31 

sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata bahwa: apakah yang akan kami makan ? apakah yang akan kami minum ? apakah yang akan kami pakai ? semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.  

dan yang paling terpenting dari kesemuanya itu ialah menempatkan Allah diatas segala sesuatu. firman-Nya sendiri mengingatkan akan hal itu 

Matius 6 : 33

tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu

 mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, ya artinya ketimbang berfokus pada ketidakpastian yang membuat jatuh ke dalam dosa alangkah baiknya untuk fokus pada kebenaran bahwa Allah menyertai bagaimanapun kondisi kita saat ini dan Ia tahu kapan waktu yang terbaik untuk menjawab doa setiap anak-anak-Nya

yang awalnya tadi saya ga bisa lihat hal yang bisa disyukuri, setelah meyakini akan pemeliharaan Allah saya mulai dapat melihat banyak hal yang dapat saya syukuri dalam waktu-waktu penantian itu, contohnya saya mulai memiliki komunikasi yang intens dengan Tuhan, kesempatan untuk tetap dapat mengerjakan pelayanan, kesempatan untuk membaca buku, nonton netflix, dan bahkan saat penelitian hari terakhir saya diberikan kesempatan untuk menikmati pemandangan setelah 3 bulan di rumah aja, dan saya pun dapat belajar untuk tidak membandingkan waktu dan proses saya dengan orang lain. 

waktu Tuhan eman selalu tepat dan ga ada yang terlalu cepat atau terlalu lambat. membandingkan waktu kita dengan waktu orang lain, membandingkan proses kita dengan proses orang lain adalah sebuah kesia-siaan yang hanya membuat kita mundur ke belakang. melihat dan meyakini ada Allah yang berjalan bersama dalam lembah kelam hidup, itulah yang akan membuat kuat dan bertahan melalui hal-hal sulit dalam hidup


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ready for 2021 ??

Perjalanan memasuki 2021 tinggal beberapa jam lagi